Retro Review Apple Iphone: Bukan Untuk Ponsel Utama

Sejak belum beredar, Apple iPhone telah menghebohkan dan ditunggu banyak orang. Kabar burung menyebutkan iPhone bakal beredar resmi di Indonesia pada semester pertama 2008. Kalau saja terealisasi, bukan tidak mungkin sambutan pasar takkan seantusias di luar negeri. Bukan alasannya konsumen di sini tidak berminat, melainkan karena mereka telah terpuaskan dahaganya.

Dengan dana sekitar Rp 6 juta, pengidam iPhone ketika ini bisa membawa pulang satu unit iPhone 8 GB. Gadget itu siap dipadukan dengan kartu SIM operator GSM Indonesia. Statusnya memang tanpa garansi. Namun, bukankah bagi sebagian konsumen di tanah air mempunyai kesempatan bergaya lebih awal lebih penting daripada status garansi?

Menurut penulis, iPhone ternyata bukan pilihan bijak untuk menjadi ponsel utama. Ketika digunakan bertelepon, peranti yang sanggup bekerja di jaringan GSM 850/900/1800/1900 MHz itu masih relatif nyaman. Keypad numerik virtual yang muncul di layar gampang disentuh dengan tepat.

Namun, begitu hendak mengetik SMS, jadilah iPhone mempunyai fungsi ganda. Sebagai perangkat komunikasi sekaligus sarana mencar ilmu mengendalikan emosi. Tombol QWERTY keyboard virtual yang tersaji di layar tergolong kecil. Kesalahan ketik pun tak bisa disebut rendah.

Ada bukti pendukung terkait hal itu. Pertengahan tahun ini User Centric, sebuah perusahaan konsultan yang berbasis di Chicago, AS, melaksanakan survei terhadap pengguna iPhone dan ponsel. Hasilnya, pengguna iPhone menciptakan 5,6 kesalahan ketika mengetik satu SMS. Pemakai ponsel ber-keypad numerik ibarat di kebanyakan ponsel melaksanakan 2,4 kesalahan, sedangkan pengguna ponsel dengan QWERTY keyboard hanya menciptakan 2,1 kesalahan.

Kekurangmenarikan lain iPhone, SIM card tray atau bantalan kartu SIM-nya berada di sisi atas dan tak gampang dikeluarkan. Pengguna harus menggunakan alat bantu yang runcing serta keras. Misalnya, klip kertas atau peniti. Tak praktis!

Suara yang diperdengarkan via speaker internal iPhone tergolong kecil. Sehingga, bila ingin optimal, kala memainkan file musik atau video pengguna sebaiknya menggunakan headset stereo.

Beralih ke sisi menarik iPhone. Gadget berukuran 115 x 61 x 11,6 milimeter dan berat 135 gram ini dibekali layar sentuh 3,5 inci yang amat prima. Resolusinya 480 x 320 piksel dan konon bisa menyajikan hingga 16 juta warna. Kala matahari bersinar terik pun, goresan pena dan gambar yang tersaji masih relatif gampang dilihat.

Mengamati foto dan browsing via iPhone menunjukkan pengalaman gres yang menarik. Pengguna cukup “mencubit” layar untuk memperbesar (zoom in) tampilan atau mengembalikan ke kondisi normal (zoom out). Kalau pengguna memutar posisi iPhone, maka tampilan di layar pribadi menyesuaikan diri.

Sebuah kamera dua megapiksel berada di sisi belakang iPhone. Hasil jepretannya, berdasarkan penulis, tak layak disebut prima. You Tube, Stocks, Maps, Weather, Calendar, Clock, Calculator, Mail, dan Notes merupakan ikon-ikon lain fitur yang terlihat di layar iPhone. Peranti ini mendukung konektivitas EDGE, Wi-Fi, dan bluetooth. Bluetoothnya sebatas untuk dihubungkan dengan handsfree bluetooth, lalu digunakan bertelepon. Pengguna tak sanggup mentransfer data via bluetooth.

Keterangan: Retro review merupakan review gawai yang HSW buat pada bertahun-tahun silam. Gawai yang dibahas di atas merupakan iPhone generasi pertama. HSW tak ingat kapan ulasan tersebut dibuat. Dengan memperhatikan isinya, kemungkinan review itu diketik pada simpulan 2007. Isi naskah tidak diunggah utuh sesuai aslinya. Ada sedikit modifikasi yang dilakukan.

Share this:Click to share on Twitter (Opens in new window)Click to share on Facebook (Opens in new window)Click to share on WhatsApp (Opens in new window)Click to email this to a friend (Opens in new window)