Ke Madura Yuk! Semoga Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura? Sate. Soto. Bebek Sinjay. Jembatan Suramadu. Karapan sapi. Semuanya benar. Namun, Madura sebetulnya bukan hanya mempunyai hal-hal tersebut. Ada bermacam-macam daerah wisata menarik di Pulau Garam itu. Ada pula banyak sekali masakan menarik yang layak dicicipi.

Berawal dari sebuah fatwa spontan, 12-13 April 2017 penulis alias HSW berkelana ke Madura. Huawei P9 dijadikan kamera utama. HSW juga membawa satu ponsel premium lain. Kata kuncinya, apel kroak.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Seluruh foto yang diunggah di halaman ini dijepret menggunakan P9. Agar ukuran file tidak terlalu besar, setiap foto telah mengalami resize dan kompresi 80%. Tidak ada olah digital lain yang dilakukan. Perkecualian berlaku untuk satu foto yang berada di posisi teratas. Foto dandang itu sudah menjalani cropping sehingga gambar yang awalnya dalam posisi lansekap (horizontal) bermetamorfosis portrait (vertikal).

Untuk mengetahui lokasi penjual kuliner atau daerah wisata, kliklah nama makanan/tempat yang tertulis dengan warna biru. Koordinat lokasi akan diketahui dan disajikan via Google Maps.

***

Pukul 10.00 kendaraan beroda empat yang disewa HSW mulai melaju meninggalkan Surabaya. Sekitar setengah jam usai Jembatan Suramadu dan Bebek Sinjay, di sisi kiri jalan terlihat warung sederhana bertuliskan Rujak Soto. Mobil yang terlanjur melewati warung dihentikan kemudian berputar balik.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Ada dua sajian yang tersedia di warung itu: rujak soto dan rujak. Keduanya dipesan. Sepiring rujak soto dibanderol Rp 15.000. Sementara itu, rujak cukup “ditebus” Rp 7.000. Kata seorang teman, harga pasaran dua kuliner khas Bangkalan tersebut seharusnya tak setinggi itu.

 

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Air Terjun Toroan di Sampang menjadi daerah wisata pertama yang dikunjungi. Air terjun itu tergolong unik sebab berbatasan pribadi dengan laut. Pengunjung cukup membayar biaya parkir kendaraan bermotor. Mobil dikenakan Rp 10.000, sedangkan sepeda motor Rp 5.000. Tak ada tiket masuk yang dihitung per orang.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Sekitar pukul 14.30 HSW meninggalkan Air Terjun Toroan. Keluar dari lokasi air terjun, kendaraan beroda empat berbelok kiri kemudian melaju mengikuti jalan beraspal yang mulus. Baru beberapa menit, di sisi kanan jalan terlihat bukit kapur yang masih aktif ditambang. HSW impulsif tetapkan berhenti sejenak.

Dengan menggunakan bahasa Madura, sahabat HSW yang sekaligus menjadi pendamping dan pengemudi kendaraan beroda empat sewaan meminta izin pemotretan. “Lampu hijau” didapatkan. Berbagai sudut bukit kapur tanpa nama itu menjadi sasaran jepretan kamera ponsel.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Berbincang perihal bukit kapur, di Bangkalan Madura sebetulnya ada Bukit Kapur Jaddih yang sedang naik daun. Lokasi itu dikenal indah dan sangat instagrammable. Awalnya HSW berencana ke sana. Namun, niat itu diurungkan sebab daerah wisata tersebut ternyata rawan begal. Beragam warta pendukung secara gampang sanggup ditemukan via Google.

Beberapa orang menawarkan saran senada kepada HSW. “Saya yang orisinil Madura pun pikir-pikir kalau mau ke sana,” kata salah satu di antara mereka. Kalau tetap ingin mengunjungi bukit kapur, mereka mengusulkan Bukit Kapur Batu Putih alias Bukit Kapur Badur di Sumenep.

HSW menyetujuinya. Bukit kapur itu dimasukkan ke agenda kunjungan. Praktiknya, sebab di perjalanan tak sengaja menjumpai bukit kapur tanpa nama, HSW batal mampir ke Bukit Kapur Batu Putih.

Perjalanan dilanjutkan. Targetnya, sebelum maghrib harus sudah tiba di Api Tak Kunjung Padam, Pamekasan. Kala melewati sebuah jembatan dan melihat ada deretan bahtera nelayan, kendaraan beroda empat bergegas dihentikan di depan bangunan yang tampaknya akan difungsikan sebagai lapangan futsal indoor.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Arloji Casio di pergelangan tangan kiri HSW memperlihatkan pukul 16.58, ketika kendaraan beroda empat sewaan berhenti di area parkir daerah wisata Api Tak Kunjung Padam. Dinamakan demikian sebab di lokasi itu terdapat api infinit yang terus menyala. “Hujan pun tidak mati. Paling hanya mlethik-mlethik (mirip percikan kembang api),” kata seorang laki-laki berjaket yang tampaknya sudah berkali-kali mampir ke sana.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah nyala api takkan merambat liar ke mana-mana? Jawabannya, tidak. Api hanya menyala di dalam area yang dikelilingi pagar besi dan sekitar setengah meter di sisi luarnya. Bila pengunjung menggali tanah di area tersebut, api akan menyembur. Hal serupa takkan terjadi bila yang digali tanah di luar area berpagar.

HSW iseng membeli dua batang jagung manis. Dalam hitungan menit, jadilah jagung bakar yang siap disantap. Lezat! Panasnya terasa lebih merata daripada bila jagung dibakar di atas bara arang.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Api alam yang setara dengan nyala kompor itu rutin dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk memasak. Ada yang merebus air, ada pula yang mengkremasi ikan.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Matahari telah kembali ke peraduan ketika HSW meninggalkan Api Tak Kunjung Padam menuju alun-alun kota Sumenep. Waktu makan malam telah tiba. Tepat pukul 19.00 kendaraan beroda empat berhenti di Depot Soto Talang, Pamekasan.

Semangkuk soto ayam dan sepiring nasi putih dengan cepat tersaji di meja. Wah, ternyata ada telur rebusnya. Padahal, HSW tak menyukai telur rebus, telur asin, maupun telur mata sapi. Potongan telur rebus itu disingkirkan manual.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Supaya lebih puas dan kenyang, HSW memesan satu porsi tambahan. Kali ini disertai catatan: tanpa telur rebus. Perhatikan kuning-kuning yang mengapung. Itu bukan kuning telur, melainkan mentega. Penggunaan mentega sebagai potongan dari kuah Soto Talang membuatnya dijuluki soto mentega oleh sahabat HSW.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

“Sejak SD saya sering makan di sini. Cita rasanya masih sama,” tuturnya. Berarti sudah berapa usang beliau menjadi pelanggan depot tersebut? Silakan memperkirakannya sendiri. Teman HSW itu telah menikah. Tahun ini anaknya akan masuk ke perguruan tinggi tinggi.

Akhirnya HSW tiba di ujung timur Pulau Madura. Memotret kemegahan Masjid Agung Sumenep di seberang alun-alun Sumenep menjadi agenda utama malam itu.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Sesampai di lokasi, niat memotret diurungkan sesaat sebab ada scaffolding yang mengurangi keindahan penampilan. Sisi luar masjid yang sebelumnya lebih dikenal sebagai Masjid Jamik Sumenep itu tampaknya sedang dicat. Mungkin persiapan menyambut bulan Ramadan.

Dengan pertimbangan tak ada kesempatan lagi, HSW tetapkan pemotretan jalan terus. Hasilnya, salah satu masjid tertua di Indonesia itu tetap terlihat anggun dan megah.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Malam semakin larut. Saatnya beristirahat di hotel. Ketika melangkahkan kaki ke daerah parkir, HSW melihat rambu ini. Sebagian tandanya telah terkelupas. Seandainya masih utuh, rambu itu tampaknya bermakna becak tidak boleh melintas.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

***

Kamis, 13 April 2017. Pukul 07.05 HSW telah meninggalkan hotel untuk berburu kuliner ringan manis apem. Di Madura jajanan itu disebut apen. Ia disajikan dengan saus yang terbuat dari gula siwalan (bukan gula jawa) dan santan. Sepintas ibarat serabi ya? Saat membayar HSW terperanjat. Harga sepiring kuliner ringan manis apen di Warung Apen Bu Iyung ternyata hanya Rp 3.000.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Mobil kemudian diarahkan ke Pantai Slopeng. Pohon cemara udang banyak ditemukan di pantai yang mempunyai bukit pasir tersebut. Ombak di pantai itu tergolong sangat tenang.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Tidak usang berada di pantai, kini saatnya berwisata masakan lagi. menikmati rujak Madura di Warung Sarinah. Singkong kukus menjadi salah satu materi baku rujak tersebut. Di potongan atas rujak ditaburkan keripik singkong. Ya, keripik alias ceriping singkong. Kriuk� kriuk�.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Masih ada satu jajanan yang hendak dicari sebelum HSW kembali ke hotel untuk mandi lagi, berkemas, dan check out. Petulo. Di Madura kuliner tersebut disebut pattola. Mobil bergerak perlahan melewati jalan yang diketahui menjadi “markas” penjual pattola.

Ketika di sisi kanan jalan terlihat ada spanduk Pattola Ijo, kendaraan beroda empat pribadi berbalik arah kemudian berhenti sempurna di depan warung. Waks� warna hijaunya menyala banget. Harga sepiring pattola Rp 7.000.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Rasa kenyang menerpa. Maklum, dalam tiga jam tiga piring kuliner telah sukses masuk ke perut. Apen, rujak singkong, dan pattola. Eh� ditambah dengan sarapan nasi sup yang sangat tidak menggoyang pengecap di hotel, berarti empat piring ding. Wajar merasa kenyang, bukan?

Ketika HSW sedang menghitung jumlah pengeluaran sementara di kamar hotel, telepon berdering. Rupanya dari resepsionis hotel. Petugas menanyakan apakah HSW ingin memperpanjang masa tinggal atau akan check out. Bila keluar, batas waktunya pukul 12.00.

Lima menit sebelum tenggat waktu, HSW mengembalikan kunci ke resepsionis kemudian meninggalkan hotel. Rumah Makan 17 Agustus menjadi satu-satunya lokasi kunjungan siang itu, sebelum HSW meninggalkan Sumenep dan memulai perjalanan pulang ke Surabaya.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Mengapa dinamakan Rumah Makan 17 Agustus? Sebab, rumah makan itu mulai dibuka pada 17 Agustus 1957. Tahun ini usianya berarti genap 60 tahun. Di awal datang, HSW dan rekan memesan nasi campur, nasi rawon, kopi panas, dan teh panas. Sebungkus kerupuk rambak kemudian diambil dari rak.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Nasi campurnya sengaja tidak difoto sebab relatif sama dengan nasi campur yang selama ini HSW kenal. Sementara itu, nasi rawonnya tergolong tak lazim karena kuahnya cenderung bening dan berwarna merah. Padahal, kuah rawon biasanya berwarna hitam.

Usut punya usut, kuah rawon di rumah makan tersebut tidak menghitam sebab dimasak tanpa keluak (Jawa: kluwek). “Warna merahnya berasal dari cabe merah,” ungkap Tante Trisnadewi, pemilik rumah makan, yang dengan sabar menjawab aneka pertanyaan HSW.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Belakangan HSW gres mengetahui kalau sajian andalan di sana ialah sop buntut dan lontong cap gomeh. HSW bukan penikmat sop buntut, sedangkan rekan HSW yang doyan sop buntut telah kekenyangan. Karena itu, HSW tetapkan menjajal lontong cap gomeh saja. Karena di Madura rasanya kurang afdol bila belum menikmati sate, seporsi sate ayam tak lupa dipesan.

Lontong cap gomeh ala Rumah Makan 17 Agustus dilengkapi daging ayam, daging sapi, dan hati sapi. Tak ada sayur labu atau sayur manisa. Kondisi yang melatarbelakanginya: orang Madura tidak suka sayur ketika makan di restoran.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Di Surabaya, Jakarta, dan banyak sekali kota lain �ada banyak penjual sate Madura. Namun, di Pulau Madura jangan coba-coba mencari sate Madura. Tak ada. Yang tersedia di sana sate ayam, sate sapi, atau sate kambing. Tanpa aksesori Madura.

Sepiring sate ayam menjadi hidangan terakhir yang HSW santap di Rumah Makan 17 Agustus. Bumbunya terasa lebih encer dan manis daripada Sate Madura yang sering HSW beli di Surabaya.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Sebelum pulang HSW membeli keripik teki. Entah rasanya ibarat apa. Karena sedang agak batuk, keripik itu hingga kini belum dibuka.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Keripik teki merupakan kuliner ringan khas Sumenep yang terbuat dari rumput teki. “Sebungkus Rp 30.000. Harganya mahal sebab harga materi mentahnya mahal, sekilo sanggup hingga Rp 200.000,” tutur Tante Trisnadewi.

Dalam perjalanan kembali ke Surabaya, HSW singgah sejenak di Pasar Batik Pamekasan. Niat utamanya memotret batik Madura yang dikenal berani menggunakan warna terperinci dan tajam. Plus, siapa tahu menjumpai kemeja batik berukuran jumbo. Niat sampingan itu gagal terwujud. Kemeja terbesar yang tersedia ketika dicoba ternyata kolam rompi di badan HSW.

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Apakah hal pertama yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Madura Ke Madura Yuk! Biar Nggak Kurang Piknik

Share this:Click to share on Twitter (Opens in new window)Click to share on Facebook (Opens in new window)Click to share on WhatsApp (Opens in new window)Click to email this to a friend (Opens in new window)